Oktober 21, 2009 oleh Faishal
Baru-baru ini saya mengunjungi seorang guru di Desa Ajung, Kalisat, Jember, Jawa Timur. Beliau bernama Abdul Saleh yang juga menjalankan usaha sampingan berupa katering dengan spesialisasi ayam kampung panggang. Kebetulan beliau memakai produk baru kami yaitu VITERPAN Khusus Unggas. Alhasil nselama 5 bulan pemakaian, Pak Saleh merasakan manfaat yang mencengangkan dirinya. Bayangkan, umumnya ayam kampung sejak menetas sampai mencapai umur layak potong setidak-tidaknya memerlukan waktu antara 4 sampai 5 bulan. Ternyata dengan VITERPAN Khusus Unggas ini, ayam kampung sudah bisa disembelih saat mencapai umur 2,5 bulan sampai 3 bulan saja. Luar biasa. Silakan saksikan videonya di sebelah kanan.

Tak kalah luar biasanya, kotoran ayamnya sekarang minus bau alias tidak berbau. Beliau menjadi sangat bersemangat sekarang untuk mengembangkan usaha ternak ayam burasnya karena sangat menguntungkan jadinya. Pak Saleh tidak perlu membeli ayam dengan harga mahal lagi di pasar. Ini berarti keuntungan yang didapat dari usaha kateringnya semakin berlipat-lipat.

Di atas adalah gambar ayam umur 2 bulan milik Pak Saleh yang telah diberi VITERPAN Khusus Unggas. Selamat untuk Pak Saleh.
Selengkapnya mengenai VITERPAN Khusus Unggas, baca di halaman PRODUK I.
Ditulis dalam Kisah Nyata | Bertanda agribisnis, agro, agrobisnis, alami, ayam, bakteri, bisnis, bobot, broiler, budidaya, buras, chick, daging, dekomposisi, enzim, enzym, farm, FCR, hayati, herbal, jamu, kalsium, kampung, kandang, karbohidrat, kisah, konsumsi, kotoran, layer, mikroba, nafsu, organik, pakan, pedaging, peluang, penyakit, petelur, probiotik, produksi, produktifitas, protein, pupuk kandang, puyuh, ransum, rugi, TDN, telur, ternak, unggas, untung, usaha | Leave a Comment »
April 2, 2009 oleh Faishal
Pada artikel yang terdahulu berjudul BIBIT, BEBET DAN BOBOT PULLET penulis berusaha meyakinkan para pembaca sekalian agar hati-hati dan waspada pada saat membeli pullet. Sekarang kita akan coba mengangkat persoalan manajemen pakan yang tentu saja berangkat dari pengalaman penulis di lapangan.
Pakan menghabiskan 70 % biaya budidaya, ini sudah jamak diketahu dan dipahami sekalian para peternak. Terlebih lagi jika pakan yang dipakai adalah pakan jadi hasil olahan pabrik pakan dengan segala promosi keunggulannya baik itu substansi nutrisinya, kesiapan logistiknya, dukungan teknisinya dan lain sebagainya. Biasa lah, namanya promosi. Kenyataan di lapangan, para peternak kerap dibuat bingung mendapati kualitas pakan yang dibelinya tidak selalu konstan. Ini nyata dilihat dari wujud fisik dari pakan itu sendiri maupun respon ayam setelah memakannya berupa nafsu makannya, produksi telurnya, naik turunnya bobot badannya dan sistem kekebalan tubuhnya.

Hal ini, jika dipikir-pikir, wajar saja karena rantai produksi dan distribusi pakan pasti banyak melibatkan banyak sekali faktor. Faktor ketersediaan bahan baku berikut harganya, faktor proses quality control pakan, faktor pergudangan, faktor pengangkutan, dan lain sebagainya. Di sinilah kejelian dan ketelitian peternak konsumen pakan jadi diperlukan. Jangan terlalu berpatokan pada nama besar produsen pakan. Sebelum memutuskan membeli jenis pakan tertentu lakukan sampling 20 % dengan cara: lihat (kode produksinya, bentuk pakan, warnanya, berat nettonya), raba (halus kasarnya butiran pakan, tingkat kelembabannya), cium (baunya segar atau apek), rasa (cicipi sedikit bagaimana rasanya, kalau enak di lidah kita, enak pula di lidah ayam, ingat ayam pun memiliki indera perasa).
Jika terdapat tanda-tanda yang tidak normal, jangan pertaruhkan nasib usaha Anda dengan tetap membelinya ! Cobalah pakan merek lain.

Tindakan seperti itulah yang kami terapkan dalam pemilihan pakan yang dilakukan secara berkala, terus menerus, dan dengan pengawasan ketat. Hasilnya, alhamdulillah ayam layer kami memperoleh yang terbaik dan timbal baliknya memberi yang terbaik.
Ingat, ayam adalah makhluk yang sangat jujur tanpa rekayasa. Jika makannya banyak dan pakannya baik, produksinya pasti banyak.
Ditulis dalam ayam petelur | Bertanda agro, agrobisnis, ayam, bisnis, FCR, layer, nafsu, pakan, petelur, peternakan, probiotik, produksi, produktifitas, protein, ransum, ras, TDN, telur, ternak, unggas | 3 Komentar »
Maret 3, 2009 oleh Faishal
Kenyataan di lapangan jarang peternak ayam petelur mandiri yang menyiapkan pullet sendiri terkecuali peternakan skala besar yang merupakan suatu organisasi usaha dari hulu ke hilir pasti menyiapkan pullet secara kontinyu untuk keperluan intern maupun untuk dijual. Ketelitian peternak pembeli pullet atas kualitas pullet sangat menentukan produktifitas layer pada saatnya nanti. Falsafah Jawa seperti judul di atas penulis angkat sebagai tolok ukur tergamblang kualitas pullet. Kebanyakan peternak layer terlena oleh nama besar perusahaan penyedia pullet yang diyakini selalu menjaga kualitas produk dan brand nya. Namun jangan lupa bahwa semua kegiatan ini melibatkan manusia dengan berbagai karakter dan kepentingan. Maksudnya tetap ada kemungkinan ketidakbenaran dan ketidakcocokan antara mutu yang dijanjikan dengan kenyataan. Bukan curiga tapi mengajak para peternak waspada dan jangan mudah percaya tanpa pengawasan. Sekitar 2 minggu yang lalu, Jaya Karya Farm meminta bantuan penulis untuk mensurvei pullet sebanyak 3000 ekor. Lokasi kandang pullet ada di Desa Telaga Langsat, Kec. Takisung, Kab. Tanah Laut, Kalsel. Pemilik kandang pullet tersebut adalah mitra plasma dari sebuah perusahaan ternak besar berpusat di Surabaya, Jawa Timur. Perusahaan ini memiliki nama besar terutama lewat produk pakannya. Kami berangkat berempat ke lokasi yang berjarak sekitar 2 jam perjalanan dengan mobil. Cuaca cukup bersahabat dengan sinar matahari yang tidak terlalu terik. Ditambah hembusan angin pantai yang cukup terasa karena lokasi berdekatan dengan laut Jawa.

Singkat cerita kami tiba di sana langsung menuju kandang yang ditunjuk. Ada 4 pen (kandang) yang akan disurvei. Tim segera menyiapkan peralatan seperti alat timbang dan sebagainya. Pullet berumur 20 minggu. Berdasar data recording kandang, kami simpulkan pullet berasal dari bibit yang baik dengan tingkat kesehatan yang cukup baik. Tinggal dicari bobot yang diinginkan yaitu minimal 1,4 kg tidak boleh kurang.
Prosedur seleksi yang kami lakukan adalah:
- Buat semacam 2 garis diagonal bayangan di dalam bidang pen.
- Lakukan sampling bobot pullet di 4 titik sudut dan 1 titik tengah sejumlah berapapun ayam yang tejaring di sana.
- Catat dengan teliti semua hasil penimbangan.
- Data timbang itu dipakai untuk menganalisa pen yang mana yang paling layak untuk diproses lebih lanjut.
Hasil analisanya kemudian memberi kesimpulan hanya 2 pen yang memenuhi persyaratan dari segi bibit (bentuk pial atau jengger yang ideal sebagai indikatornya), bebet (tingkat kematangan kelamin dari bentuk ovariumnya) dan bobot (persentase pullet sampling ≥ 1.4 kg di atas 80%).
Pada hari berikutnya kami lanjutkan dengan seleksi ayam plus pengangkutan. Hasilnya, dari target 3000 ekor pullet kami hanya memperoleh 2136 ekor yang benar-benar memenuhi standar bibit, bebet dan bobot yang baik. Tidak mengapa, karena ini lebih menjamin tingkat produktifitas telur yang diharapkan.

Alhasil, setelah satu minggu pullet berada di kandang Jaya Karya Farm sudah mampu menghasilkan 217 butir telur (± 10% dari populasi). Tren produksi terus naik sampai saat ini setelah 2 minggu produksi mencapai 574 butir telur (± 27% dari populasi).
Fakta ini membuktikan bahwa seleksi yang benar dengan falsafah mencari bibit, bebet dan bobot yan baik akan menolong peternak ayam petelur memaksimalkan produksi sekaligus menekan FCR.
Semoga tulisan ini bisa membantu dan memberi dorongan semangat bagi para peternak khususnya peternak ayam petelur.
Ditulis dalam ayam petelur | Bertanda grading, layer, menimbang, metode, petelur, produksi, pullet, reject, seleksi, teknis, telur, timbang, timbangan | 3 Komentar »
Februari 7, 2009 oleh Faishal
Selamat berjumpa kembali. Cukup lama saya tidak meng-update informasi di blog ini karena adanya kesibukan yang luar biasa khususnya sejak bulan puasa 2008 yang baru lalu. Meski demikian saya sampaikan beribu terima kasih kepada Anda yang setia berkunjung dan para pelanggan baik lama maupun baru atas kesediaannya mencoba produk yang yang saya informasikan di sini.
Jika dulu saya banyak mengupas persoalan seputar ayam broiler (pedaging) kali ini saya akan banyak mengusung tulisan mengenai ayam layer (petelur).
Sejak akhir Desembar 2008 saya dipercaya untuk membantu mengelola manajemen sebuah peternakan ayam petelur di kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Peternakan itu adalah Jaya Karya Farm milik Bpk. Budi Wijaya, seorang pengusaha besar yang berdomisili di Martapura.
Kesempatan ini ingin saya manfaatkan sebaik-baiknya untuk menggali secara mendalam seluk beluk usaha ternak ayam petelur.
Para pembaca yang budiman, silakan tunggu saja tanggal mainnya.
Tak lupa saya ingin menyampaikan rasa terima kasih saya kepada Ibu Fenny di Solo atas kepercayaannya selama ini telah menggunakan PROMIX di peternakan ayam petelurnya. Juga Bpk. Budiman di Makasar yang sudi mencoba 1 karton PROMIX plus beberapa botol JAMPISTRESA. Bpk. Budiman bekerja sebagai TS di JAPFA COMFEED Makasar, Sulawesi Selatan. Salam buat Bpk. Ir. Ali Saleh, MSi di Jatinegara, Jakarta Timur yang telah menjadi agen kami selama setahun lebih. Beliau adalah seorang dosen dan peneliti di Institut Pertanian Bogor (IPB). Bpk. Poppy Wijaya di Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah yang begitu setia melayani para pelanggan produk kami di daerah tersebut sejak awal 2008 sampai sekarang saya ucapkan terima kasih. Bpk. Munawardi, SP di Bandar Lampung yang membangun pemasaran dengan omzet yang cukup bagus di sana, terima kasih banyak. Dan tentu saja Bpk. Muji di kota Tanjung, Tabalong, Kalimantan Selatan; Bpk. Samsir di Garut, Jawa Barat; Bpk. Freddy Samuel di Surabaya, Jawa Timur; Bpk. Suwarno di Probolinggo, Jawa Timur; Bpk. Tito di Kediri, Jawa Timur; Bpk. Antika di Ciamis, Jawa Barat; Bpk. Prasetio di Bandung, Jawa Barat; Ibu Yulia di Payakumbuh, Sumatera Barat; Bpk. Suyanto di Pematangsiantar, Sumatera Utara dan yang lain yang belum saya sebut di sini, terima kasih atas segala kepercayaannya selama ini.
Perlu diketahui bahwa beliau-beliau itu belum pernah sekalipun bertemu muka dengan saya melainkan melalui forum di internet via e-mail dan juga SMS. Namun jalinan saling mempercayai terbangun indah. Terbukti transaksi bernilai jutaan berlangsung safe, clean dan clear sejalan dengan komitmen saya untuk mengedepankan prinsip menjaga amanah dan jika berjanji harus dipenuhi.
Semoga suasana yang sudah baik ini tetap terjaga sampai akhir hayat nanti. Amin ya robbal ‘alamin.
Ditulis dalam petelur | 3 Komentar »